Menulis, antara Fakta Sejarah dan Kombinasi Fiksi

nagarakertagama

Berbicara tentang sejarah, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar aku suka membaca tentang sejarah perjuangan bangsa dan kerajaan-kerajaan yang berdiri di seluruh nusantara. Dan pada akhirnya meluas sampai aku bisa mengenal tentang sejarah dunia. Bahkan nilai pelajaran sejarah di rapotku tidak pernah kurang dari 9. Membaca tentang fakta sejarah selalu saja bisa membuat pikiranku tergelitik dengan banyak pertanyaan.

Kenapa sebuah peristiwa dalam sejarah dapat terjadi? Kenapa orang-orang menuliskannya dalam prasasti, catatan daun lontar dan kitab negara?  Untuk apa? Apakah sebuah peristiwa yang tertulis dalam prasasti benar-benar terjadi? Kenapa itu terjadi? Ada peristiwa apa sebelum sebuah prasasti ditulis? Siapa yang menulis? Atas perintah siapa buku-buku dan prasasti itu ditulis? Apa penulisnya jujur menuliskan sesuai yang terjadi? Banyak pertanyaan seperti itu yang pada akhirnya aku sendiri dan bahkan buku sejarah yang aku baca tak mampu untuk menjawabnya.

Para ahli sejarah menjelaskan kejadian-kejadian yang terjadi pada sejarah hipotesa dan hasil penelitian bertahun-tahun. Tapi hal itu tetap tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Akhir-akhir ini sedang senang membaca kembali tentang segala macam yang berbau sejarah. Entah dalam negeri dalam negara-negara tetangga, termasuk nonton drama-drama dengan latar belakang sejarah. Buatku pribadi, sejarah adalah hal yang sangat menarik karena di dalamnya terdapat banyak misteri tak terjawab.

Saat membaca sebuah fakta sejarah dalam kitab tertentu,kita akan menemukan beberapa fakta, saat membaca kita lain akan ditemukan fakta serupa namun tidak dituliskan sejelas kitab sebelumnya. Kenapa? Penulisan buku sejarah memiliki beberapa versi. Antara versi yang satu dan versi yang lain memiliki persamaan, ada juga yang menyebutkan perbedaan, ada yang disebutkan, ada pula yang ditutupi.

Sebagai contoh

Dalam naskah Kidung Sunda dan Carita Parahiyangan dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tidak disebutkan namanya. Namun patih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit. Kemudian terjadi pertempuran yang tidak seimbang antara rombongan pengantin Sunda dengan prajurit Majapahit di pelabuhan tempat berlabuhnya rombongan Sunda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang ini rombongan Kerajaan Sunda dibantai dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya bunuh diri.

Kisah ini disebutkan dalam Pararaton atau kitab Raja-Raja. Tapi dalam kitab Nagarakertagama kisah ini tidak pernah disebutkan. Kenapa tak disebutkan? Apakah peristiwa itu benar-benar terjadi?

Hal ini menjadi salah satu alasan untuk tidak begitu saja percaya tentang kisah-kisah yang terjadi pada masa lampau. Mengingat di masa lampau juga sudah banyak pujangga dan sastrawan, tidak menutup kemungkinan para sastrawan  ini menambahkan sedikit fiksi dalam tulisannya. Mereka menuliskan secara garis besar peristiwa yang terjadi, waktu dan tempat tapi tidak dengan detailnya. Penulis sendiri mungkin tidak pernah tahu latar belakang sebuah peristiwa. Apakah penulis menuliskannya sesuai dengan peristiwa yang terjadi? Apakah penulis berada di dalam perintah atau tekanan seseorang yang berkuasa? Apakah penulis mencoba menutupi sebuah kejadian seperti halnya yang terjadi dalam naskah Kidung Sunda yang tidak pernah tercantum dalam Nagarakertagama?

Kita tidak akan pernah tahu.

Celah-celah kecil seperti ini merupakan ide untuk penulis-penulis masa kini untuk membuat sebuah cerita fiksi. Dimana fakta sejarah digabungkan dengan fiksi. Dan timbulah berbagai macam versi cerita yang kita kenal dalam novel, film, drama seri, drama radio, komik dan masih banyak lagi.

Aku selalu kagum dengan para penulis yang mampu menggabungkan fakta sejarah dan fiksi, mengemasnya dalam sebuah cerita utuh dan menyajikannya. Penulis-penulis ini pasti punya pertanyaan yang sama dengan pertanyaan-pertanyaanku

2 thoughts on “Menulis, antara Fakta Sejarah dan Kombinasi Fiksi

  1. Pingback: Menulis, antara Fakta Sejarah dan Kombinasi Fiksi – Part 2- | Bukan akhir dari sebuah cerita

  2. Pingback: Menulis, antara Fakta Sejarah dan Kombinasi Fiksi – Part 3 | Bukan akhir dari sebuah cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s