Hilang

Kulitnya mulai keriput, rambutnya yang dulu hitam kini memutih. Jalannya yang dulu tegap dan gagah kini kurus kering, sedikit membungkuk. Kadang hanya dengan mengangkat secangkir teh hangat kesukaanya tangannya bergetar hebat.

Namun, sinar matanya tak pernah berubah, tajam, menusuk dan berwibawa.

Fedora coklatnya tak pernah lepas dari kepalanya, entah menutupi rambutnya yang memutih atau memang ia sungguh mencintai fedoranya.

Suatu ketika, fedora coklat itu ditemukan tergeletak begitu saja di pantai, tempat sosok kurus kering sedikit bungkuk yang berwibawa itu menghabiskan sorenya. Memandangi matahari yang perlahan menghilang seolah tenggelam dikedalaman samudera.

Tak ada yang tahu kemana perginya. Sebagian orang menduga ia terseret ombak dan mati. Namun mayatnya tak pernah ditemukan.  Sebagian orang menduga ia meninggalkan kota, dan tak ingin kembali lagi.

Mangolaboh, hari ke limabelas bukan ke empat. Di Negeri Penyihir Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s