Surti dan Tiga Sawunggaling

Dulu waktu aku masih remaja, pernah berkhayal tentang pergi menonton teater, yang bercerita tentang kepahlawanan, percintaan atau apa saja yang penting drama teater. Juga berkunjung pada sebuah pertunjukan orkestra yang memainkan lagu-lagu klasik milik Bethoven ataupun Bach dan diselengi oleh seorang penyanyi dengan suara tenor.

Hari Sabtu tanggal 23 Juli 2011 kemaren ini, aku punya kesempatan untuk menonton sebuah pergelaran teater di gedung teater Salihara, yang ternyata tak begitu jauh dari tempat kostku. Seneng banget! Apalagi aku dapat free pass. Tentu saja kesempatan ini tidak akan aku lewatkan begitu saja.

Judul teater yang aku tonton adalah Surti dan Tiga Sawunggaling. Sebuah monolog yang diperankan oleh Ine Febriyanti. Disutradarai oleh Sitok Srengenge, guru dan mentor menulisku. Sedangkan naskahnya kepunyaan Goenawan Mohamad.

Karena pertunjukan ini adalah teater yang pertama kali aku tonton, aku mencari beberapa referensi yang dapat membantuku untuk mengerti jalan cerita Surti dan Tiga Sawunggaling. Cukup membantu.

Surti dan Tiga Sawunggaling adalah lakon imajis tentang sunyi seorang perempuan yang suaminya ditembak mati serdadu Belanda, Surti mengisi hari-harinya dengan membatik. Salah satu batik kesayangannya bercorak tiga sawunggaling: burung mitologis yang, menurut cerita neneknya, datang dari sebuah benua yang terbelah. Dalam belahan itu ada lahar yang tiap pagi mengeras dan akhirnya menjadi cermin. Burung sawunggaling adalah makhluk cermin. Tiap kali kita memandangnya, wajah, gerak, dan kata-kata kita dipantulkannya kembali.

Pertunjukan Surti kali ini adalah pertunjukan yang dilakukan untuk kedua kalinya setelah petunjukan yang pertama di tahun 2010 mendapatkan apresiasi hangat dari penonton.

Darimana aku mendapatkan free pass, tentu saja dari sang sutradara. Terimakasih banget pak Sitok! Pak Sitok memberikan free pass masing-masing satu pada murid-murid KMSS. Aku, Lilya, mbak Rina, dan Nugie. Sedangkan Bu Dian HP ikut berpartisipasi dalam pertunjukan Surti sebagai penata musiknya. Dan Cindy bertugas untuk merekam pertujukan Surti.

Aku sampai di Gedung Salihara jam 19.00, satu jam sebelum pertunjukan dimulai. Disana aku ketemu Lilya, kemudian disusul oleh Nugie dan mbak Rina beserta suami. Sebelum pertunjukan dimulai aku mendengarkan obrolan Lilya dan Nugie seputar perkembangan @fiksimini, @kebun_salju, @puisikita dan orang-orang yang terlibat didalamnya.

Tepat jam 20.00 gong berbunyi. Itu pertanda pertunjukan akan segera dimulai. Para penonton sudah berdiri mengantri untuk masuk dalam ruangan teater. Sayang sekali, aku tak sempat mengabadikan set Surti sebelum pertujukan dimulai.

Ruang pertunjukan tidak begitu besar, cukup untuk beberapa puluh orang, mungkin hampir seratus (?) aku tidak begitu yakin. Set Surti sederhana. Bercerita pada sebuah kamar di rumah Surti, ada sebuah bangku panjang, yang diatasnya ada sebuah bantal dan selimut, tempat Surti tidur. Dibelakangnya ada sebuah keranda. Sedangkan disisi lainnya ada sebuah galangan  tempat untuk menyampirkan kain mori untuk dibatik, juga tempat malam dan canting. Dibagian atasnya ada 3 buah kain lebar yang tergantung, tidak sama tinggi. 3 kain inilah yang menjadi perwujudan tiga sawunggaling kesayangan Surti. Dan bagian yang terpenting adalah dinding kaca dibagian belakang set, perwujudkan sawunggaling sebagai makhluk kaca.

Pertunjukan dimulai saat Surti mulai bercerita pada penonton tentang suaminya, Jen yang nama sebenarnya adalah Marwoto. Surti bercerita siapa suaminya, bagaimana mereka bertemu dan sampai pada akhirnya tentang bagaimana suaminya ditembak mati oleh serdadu Belanda.

Bagian yang paling mengasyikan dalam pertunjukan Surti ini adalah saat Surti bercerita tentang ia tak begitu mengenal Jen, suaminya. Dan akhirnya Surti mendapatkan informasi tentang suaminya dari percakapan-percakapannya dengan tiga sawunggaling, yang katanya selalu keluar dari kain mori yang ia batik. Tiga sawunggalingnya bernama Anjani, Baira dan Cawir.

Ine Febrianti berperan menjadi Surti, sekaligus Jen, Anjani, Baira dan Cawir. Dengan nada suara, logat dan tingkah laku yang berbeda. Salut buat mbak Ine Febrianti yang benar-benar dapat menghayati perannya dalam pertunjukan Surti yang kurang lebih berdurasi 90 menit tanpa jeda dan tentu saja tanpa ada lawan main. Benar-benar keren! Pertunjukan berakhir saat Surti berhasil menyelesaikan gambar untuk tiga sawunggalingnya dan keranda yang ada dibelakang bangku panjang tenpat Surti tidur bergerak dengan sendirinya, menghilang dibalik kain panjang milik Baira. Bagian ini benar-benar horor.

Dari beberapa bagian cerita Surti tentang siapa suaminya, pertempuran-pertempuran yang terjadi, gambaran pematang yang gelap, gambaran kuburan kuno yang terkenal angker, juga kesedihan Surti, bisa aku bayangkan dan rasakan.

Waktu 90 menit begitu cepat berlalu, dan pertunjukanpun berakhir. Aku sangat menikmatinya. Kalau ada lagi, aku pasti akan nonton! Keluardari ruangan, rombongan KMSS bertemu dengan pak Sitok Srengenge dan berfoto bersama.

Dari kiri ke kanan Nugie, pak Sitok, mbak Rina, Lilya, me dan mbak Ranti. Fotonya gelap ya, maklum sudah malam, lampunya kurang. Dan tentu saja makasih buat mbak Rina yang sudah share fotonya ^^

2 thoughts on “Surti dan Tiga Sawunggaling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s