Kame Kamera (Vol.1)

Kenapa judulnya Kame Kamera? Ya tentu saja karena ada hubungannya dengan Kamenashi Kazuya. This post is for you Kame~chan

Teman-teman yang sudah mengenalku jauh sebelum ini, pasti sudah tau aku adalah salah satu orang yang mengidolakan Kamenashi Kazuya. Dalam pikiran mereka mungkin menganggap aku sedikit aneh atau mungkin mengernyitkan dahi dan berpikir, bagaimana bisa sampai umur segini si Dian itu masih saja suka dengan Kamenashi Kazuya?

Kalau diminta untuk menjelaskan kenapa sampai sekarang aku masih saja suka sama Kame, tentu jawabanku akan panjang sekali, butuh waktu seminggu lebih untukku bercerita dari awal aku mengenalnya sampai pada akhirnya aku tetap bertahan untuk tetap menyukainya dan adore dia.

Beberapa hari ini aku dan Dewi sharing beberapa cerita soal Kame, membicarakan Kame dari A sampai Z, bahkan mengulainginya dari Z sampai A. Tanpa merasa bosan, bahkan  kami merasa ada saja di setiap harinya yang membuat kami selalu menyebut nama Kame dalam pembicaraan kami.

Sore ini aku menemukan sebuah translation dari sebuah majalah. Dalam interview nya Kame menyebutkan, lebih tepatnya mengakui kalau lagu 1582 yang dengan performance fenomenalnya di depan ribuan penonton itu adalah karya pribadinya. Sementara hampir beberapa bulan setelah performance fenomenalnya, kami selalu menduga-duga tentang siapa penggubah lagu dan liriknya. Tapi dengan beberapa alasan tersendiri, Kame tidak mempublikasikannya pada umum.

Dari translation tersebut, aku menemukan translation-translation lain yang semakin membuat aku merasa adore dia bukan sebagai artis, tapi sebagai manusia biasa. Seperti kita. Tentu saja Kame manusia biasa yang tak biasa.

Dalam Kame Kamera Volume 1, Kame membicarakan tentang Masa Depan.

Apa yang kita ketahui tentang masa depan? Kita tidak tau apapun tentang masa depan yang akan kita lewati. Hanya saja kita punya kesempatan untuk melakukan hal terbaik setiap saat kita melalui setiap waktu yang kita punya. Menganggap setiap waktu adalah moment-moment terbaik dalam hidup kita, bukan melihat dari apa yang terjadi tapi lebih mendalami mengapa hal ini atau hal itu terjadi. Mengambil setiap inti sarinya dan menjadikannya pedoman untuk hidup. Dengan begitu pandangan kita akan makna kehidupan akan berubah seiring dengan apa yang kita alami.

Kita punya kesempatan untuk bekerja, menafkahi hidup kita sendiri, atau bahkan orang lain. Dari sana kita sudah banyak mendapatkan masalah, entah itu dengan kolega, teman sekantor atau bahkan dengan bos sendiri. Dan kadang kita juga merasa kalau kita sudah banyak melakukan banyak hal bahkan menanggung tanggung jawab yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawab kita. Jangan anggap itu sebagai beban, tapi anggap itu sebagai langkah kita untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi dan tempat belajar kita untuk jauh lebih baik.

Setiap tahun kita punya kesempatan untuk mengaktualisasikan diri kita, dan kesempatan tak datang dua kali. Jadi kadang kita harus mengambil langkah berani untuk mengambil kesempatan itu. Tahun ini aku punya kesempatan untuk merancang satu profesi yang sudah aku impikan dari dulu. Menjadi seorang penulis, punya pengalaman bagaimana menulis dengan lebih baik, mengenal lebih banyak orang, dan berkenalan dengan orang-orang yang punya akses mudah ke dunia seni menulis. Tentu saja aku tak bisa mengacuhkan kesempatan seperti ini. Apalagi dengan hasil yang sudah bisa kubayangkan. Sebuah buku, karyaku sendiri.

Bagaimana masa depanku setelah hari ini? Aku menginginkan sebuah pekerjaan tetap, dan aku sudah memperolehnya. Aku ingin sebuah  profesi menyenangkan, yaitu penulis. Dan sekarang aku sedang berusaha untuk membangunnya. Terimakasih pada setiap orang yang sudah mendukungku dan membimbingku untuk profesi ini. Tak lupa meningkatkan pendidikan, aku juga sedang berjuang untuk lulus sarjana tahun ini. Setelah itu mencoba beasiswa ke Jepang dan tinggal di sana bertemu dengan Kame dan mengucapkan terimakasih. Tak lupa juga, berkeluarga.

Dan kenapa terimakasih untuk Kame? Tanpa mengecilkan peran serta teman-teman yang ada disekitarku dan juga kedua orang tuaku, juga tentu saja Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tanpa disadari, secara tidak langsung, Kame membantuku untuk menemukan teman-teman baru saat aku harus jauh dari temen-teman dekatku karena pindah kota, Kame juga yang membantuku mengatasi kesepian saat aku harus melihat hampir semua teman-temanku menemukan teman hidup mereka.

So then, bagaimana aku bisa tidak untuk mencintainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s