Bersenang-senang dulu bersakit-sakit kemudian

Wah wah dari peribahasa di atas saja sudah salah dan melanggar kaidah perperibahasaan yang sudah ada dan ditetapkan oleh kurikulum Bahasa Indonesia. Tapi memang itu sih kenyataannya. Tapi bisa disebut ke#lebayan saja. Mula-mulanya memang beberapa minggu terakhir bulan Maret kemaren aku bener-bener sibuk berat. Sampai-sampai kamar kost itu kek jadi tempat nyimpen barang-barang doang.

Minggu yang lalu aku sama bossku beberapa kali bolak-balik puncak ngurusin rapat finalisasi, ada juga workshop yang persiapannya acak kadul bikin stress dan memakan tenaga.

Hari Rabu tanggal 23 Maret aku meluncur ke puncak dan nginep di sana untuk menyelesaikan pekerjaan disana. Maklum panitia mesti siap selalu dengan rapat yang dilaksanakan. Siangnya bisa pulang dalam keadaan ngantuk berat. Pekerjaan baru selesai tengah malam. Itu pun harus dilanjutkan dikantor, belum lagi ada beberapa pekerjaan pokok yang harus diurusin, belum lagi komplain dari para pegawai yang ga puas dengan ini dan itu.

Hari Kamis tanggal 24 Maret, aku bisa pulang ke kost dan tidur lumayan enak. Se-enak-enak kasur di hotel lebih enak kasur di kamar kost sendiri. Jadi kesannya tiap kali bobok di hotel rasanya ga bisa tidur, soale membayangkan sudah berapa orang yang tidur di kasur itu. Huh apalagi sambil bercinta di situ. Mukyaaaaa pikiran kemana-mana dan akhirnya ga bisa tidur.

Hari Jum’at tanggal 25 Maret, berangkat ke Hotel Maharani di Mampang, Jakarta Selatan untuk jadi peserta Workshop sampai hari minggu. Tapi ujung-ujungnya ga jadi peserta, malah ditunjuk secara mendadak menjadi notulen. Duduk di meja sekretariat dan menjaga biar mata bisa melek dan mencatat semua pokok bahasan selama workshop berlangsung. Cita-cita pengen duduk santai, trus jam-jam tertentu mencuri waktu biar bisa balik ke kamar dan tidur istirahat. Tapi apa daya seorang notulen harus standby selama workshop berlangsung. Dan ga tanggung-tanggung workshop selesai setiap harinya jam 12 malam! alamak….Mending kalau habis itu bisa tidur, nggak dong seperti biasa. Jadi setelah selesai malah asik ngobrol sama temen sekamar, nggosipin temen sekost, ngomongin kamar juga yang keliatannya agak-agak spooky. Malah semakin ga bisa tidur. Jadinya tidur selalu di atas jam 2 pagi

Hari Minggu tanggal 27 Maret, setelah workshop selesai, siangnya aku bisa tidur siang dengan nyenyak. Tapi itu semua belum selesai. Sesuai dengan entry twitter, aku melakukan perjalanan ke Jogjakarta dengan kereta. Ke Jogjakarta? Ngapain? Mhmmm bagi yang melihatku ga online selama seminggu ini, dan yang udah nelpon, ngirim sms, offline message dan mention di twitter makasih banyak atas perhatiannya huhuhuh #terharu

Hampir selama satu minggu aku nebeng tidur di RSUP Sardjito. Nah kan jelas hubungannya dengan judul yang ada di atas, sebelumnya tidur diatas kasur empuk, eh terakhir-terakhir malah bobo di rumah sakit.

Lho lho siapa yang sakit? Bukan aku kok, masa iya orang sakit bisa melarikan diri Jakarta-Jogjakarta dengan kereta bisnis XDD. Aku cuman nemenin ibuku yang mondok dirumah sakit buat operasi batu ginjal. Jadi mau nggak mau harus tidur di rumah sakit, pake tiker, ga pake bantal huhuhu. Dan sekarang aku terkena radang tenggorokan, ga bisa nelen makanan, cuma bisa minum dan makan sup krim. Bubur aja ga bisa ketelen. Mungkin karena kelamaan mondar-mandir di rumah sakit dan ga jaga kondisi. Namanya juga rumah sakit, isinya orang sakit

Selain bertemu orang sakit yang bermacam-macam, aku bisa ketemu sama dokter-dokter residen yang cuakep-cuakep masih muda-muda pula. Untungnya selama di Sardjito aku ga ketemu suster ngesot. Jadi kalau di film-film tentang dokter atau rumah sakit, contohnya Team Dragon, setiap pagi hari semua dokter melakukan visit ke pasien-pasien. Nggak tanggung-tanggung satu atau dua orang dokter yang menangani seorang pasien. Tapi hampir semua dokter residen yang bertugas di rumah sakit melakukan visit pada semua pasien.

Contohnya begini, Ibuku di tangani oleh satu dokter residen spesialis ginjal. Apa itu dokter residen? Dokter residen adalah dokter umum yang sedang bersekolah kembali untuk mengambil spesialis dan sudah memasuki tahap akhir, jadi seperti koast gitu. Dokter residen di rumah sakit Sradjito jumlah nggak sedikit, bisa ada ratusan. Tiap lantai di bangsal rawat inap bisa ada sekitar 20 sampai 25 dokter. Masing-masing mereka punya pasien yang ditangani. Dokter residen juga punya ruangan kusus disetiap lantai rumah sakit, sesuai dengan spesialis yang mereka ambil.

Setiap jam 6 pagi, dokter-dokter residen ini melakukan visit. Visitnya ngga sendiri-sendiri, jadi mereka melakukan visit bareng-bareng. Jadi setiap visit pada seorang pasien. Bisa jadi dokter yang datang itu sekitar 20 orang. Nggak semua masuk ke ruangan sih, cuma beberapa orang saja yang sesuai dengan penyakit pasien, yang lain diluar saja. Pindah dari satu pasien ke pasien yang lain bergeraknya juga bareng-bareng. Jadi kalau pagi-pagi dateng ke rumah sakit trus melihat banyak banget orang berseragam putih-putih trus berjalan beriringan jangan kaget XDD itu dokter-dokter residen sedang visit ke pasien-pasien.

Trus aku nanya ke adikku, yang notabene dokter juga. Kok dulu waktu aku dirawat di rumah sakit, dokter yang visit kekamarku ga sebanyak itu? Di rawatnya dimana dulu? Kalau dirawat di rumah sakit swasta, yang visit ya cuma dokter yang menangani Anda. Dan sudah dipastikan tidak akan melihat dokter-dokter residen ini. Aku baru tahu lho, kalau koast dokter itu dari universitas negeri atau swasta harus dilakukan di rumah sakit milik pemerintah. Tidak boleh dilakukan di rumah sakit swasta milik yayasan. Pantes ya rumah sakit negeri itu pasiennya buanyaaaakkk dan jauh lebih banyak dari rumah sakit swasta, karena keknya dokternya buanyak disamping harganya juga murah.

Ibuku mendapakan perawatan setelah operasi batu ureter tanggal 29 Maret, setelah menunggu hampir 8 hari di rumah sakit. Menunggu giliran operasi. Dalam satu hari saja, bisa terjadi 15 – 20 operasi. Buset banyak yaaa…kupikir ga sebanyak itu lho. Jadi bisa dibanyangkan seperti apa kondisi ruang tunggu bagi keluarga pasien yang dioperasi. Isinya buanyaaaaakk…

Bayanganku itu kek di drama-drama rumasakit yang aku tonton. Jadi keluarga bisa menunggu di depan ruang operasi. Ada bangku panjang, dan kita bisa duduk di situ. Tapi kenyataanya enggak tuh hehehhe….ruang operasi di Sardjito itu terpadu, jadi masuk lewat suatu pintu yang hanya bisa dimasuki dengan kode-kode tertentu. Di balik pintu itu entah ada berapa ruang operasi dan meja operasi lagi. Dan ada satu pintu keluar, disitulah pasien yang sudah selesai operasi akan diambil oleh perawat dan keluarganya.

Ruang tunggunya ada satu, dengan bangku yang lumayan banyak, di dindingnya ada tempelen kertas dengan tulisan besar-besar, “Mohon doanya agar operasi berjalan dengan lancar” malah bikin jadi grogi dan tambah deg-degan. Hari itu ada sekitar 15 pasien yang dioperasi termasuk ibuku. Jadi di ruang tunggu ada sekitar 15 keluarga. Secara teori, yang boleh nunggu sekitar 2 orang, tapi prakteknya orang sekampung bisa dibawa semua buat nunggu jalannya operasi sampai selesai.

Emang dasar ya orang Indonesia! Tadinya orang-orang rapi nunggunya di ruang tunggu. Mungkin karena resah, akhirnya satu persatu keluar dan akhirnya duduk di selasar tempat lalu lintas pasien yang akan masuk ke ruang operasi. padahal di situ sudah ada papan larangan yang tulisannya “Maaf, bukan ruang tunggu” Tapi tetep aja ngeyel. Akhirnya yang tertinggal di ruang tunggu hanya aku, bapak dan adikku. Jadi kami bertiga bisa selonjoran dan mengganti-ganti channel TV tanpa ada orang yang komplain. Tapi akhirnya ga tahan juga, sakit resahnya karena dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang, ibu belum keluar-keluar dari ruang operasi. Bahkan bapak pun terlihat resah, sepertinya sih membaca koran, tapi kok halamannya itu itu saja.

Alhamdulillah jam 3 sore ibuku keluar dari ruang operasi dan siap dibawa kembali ke kamar perawatan. Operasi lancar dan batu ginjalnya sudah keluar. Batunya besaaaarr, hampir sebesar biji kurma. Warnanya putih kecoklatan. Teksturnya kasar. Serem ya membayangkan ada benda seperti itu ada di dalam organ tubuh kita.

Selama terbaring di tempat tidur, yang hebat dari ibuku itu, masih saja meributkan soal sampah plastik dan kertas, ehmm anu…sampah organik dan anorganik. Jadi ibuku itu rajin banget memisahkan mana sampah plastik dan sampah organik. Jadi kalau melihat aku, bapak atau adikku membuang sampai pasti tak lepas dari campur tangan ibuku

“Sampah plastiknya di pisahin dulu”

“Botolnya jangan di buang di situ, pisahin!”

“Sampah kertasnya jangan dibungkus plastik”

Hihihih beneran deh kalimat-kalimat itu ga pernah absen selama ibu terbaring sakit sekalipun! wow masih aja mikirin sampah. Sampai saat ini kondisi ibu semakin membaik. Alhamdulillah, semoga cepet sembuh ya bu-e….

Selama di Jogjakarta, jadi kepikiran buat pindah ke Jogjakarta. Selain kotanya nyaman, juga masyarakatnya yang santun. Beda banget sama di Jakarta. Mungkin karena aku terbiasa hidup di Jakarta dan ketemu sama orang-orang yang cuek. Pas sampai di Jogjakarta ketemu sama masyarakat yang santun dan ramah, jadi bikin hati ayem. Apalagi Jogjakarta juga deket sama Purworejo, tempat dimana bapak dan ibu tinggal.

Lets see semoga ada jalan menuju ke sana ^__^

 

One thought on “Bersenang-senang dulu bersakit-sakit kemudian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s